“Semua cerita saat mudik menjadi bahan pembicaraan menarik saat di kampung halaman bersama keluarga, saudara, teman dan masyarakat,” jelas Dr. Sri Raharjo yang juga Ketua Asosiasi Klinik (Asklin) Cabang Karawang melalui keterangan resmi kepada otentiknews.click,
Karawang, otentiknews.click – Wakil Ketua Umum (Waketum) Tanfidziah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama PWNU Jawa Barat Dr.Sri Raharjo, S.H., M.H., MMRS menjelaskan, Tradisi Mudik (mulih dilik) sudah menjadi tradisi yang selalu dilakukan setiap Lebaran atau hari raya idul fitri, mudik secara umum berarti sebagai pulang kampung atau ke daerah asalnya.
Para pelaku mudik adalah orang-orang yang merantau ke daerah lain untuk mencari rezeki, bekerja, berdinas. Pada kesempatan libur panjang seperti lebaran, mereka memanfaatkannya untuk berkumpul dengan keluarga.

Dikatakan Dr. Sri, Mudik menjadi tradisi yang hampir menjadi kewajiban bagi para perantau. Jarak jauh antara kampung halaman dan tempat bekerja menjadikan mereka tak bisa pulang sewaktu-waktu.
“Semua cerita saat mudik menjadi bahan pembicaraan menarik saat di kampung halaman bersama keluarga, saudara, teman dan masyarakat,” jelas Dr. Sri Raharjo yang juga Ketua Asosiasi Klinik (Asklin) Cabang Karawang melalui keterangan resmi kepada otentiknews.click, Sabtu (29/3/2025) malam
Lebih lanjut Dr. Sri menjelaskan, mudik bukan hanya tentang kembali ke kampung halaman, tetapi juga mencerminkan nilai-nilai budaya, sosial, dan ekonomi dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
“Tradisi ini tetap bertahan dan berkembang seiring waktu. Mudik adalah bagian tak terpisahkan dari identitas bangsa Indonesia yang terus menjadi momen, khususnya bagi jutaan orang setiap tahunnya,” jelasnya
Dr. Sri menyebut, Mudik bisa memiliki makna spiritual, yaitu sebagai bentuk syukur atas kesempatan beribadah puasa dan merayakan lebaran bersama keluarga.
“Tradisi ini juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, melestarikan budaya, dan meningkatkan nilai spiritual dalam kehidupan masyarakat,” pungkasnya. (red).Â


