10.000 paket makanan berbuka puasa dibagikan oleh DPD GMBI Distrik Karawang dalam kegiatan bertajuk “GMBI Peduli”. Namun ini lebih dari sekadar angka, kegiatan ini adalah cerita tentang hati yang bergerak. Tentang manusia yang masih percaya bahwa berbagi adalah bahasa paling jujur dari kemanusiaan.
Karawang, otentiknews.click – Senja di Karawang pada Jumat itu tidak hanya membawa warna jingga di langit barat. Ia juga membawa harapan. Di sudut-sudut jalan, di persimpangan yang sibuk, di depan masjid, hingga di pinggir pasar, tangan-tangan yang tulus terulur membagikan sesuatu yang sederhana namun sarat makna : makanan berbuka, Sabtu (06/03/2026)

10.000 paket makanan berbuka puasa dibagikan oleh DPD GMBI Distrik Karawang dalam kegiatan bertajuk “GMBI Peduli”. Namun ini lebih dari sekadar angka, kegiatan ini adalah cerita tentang hati yang bergerak. Tentang manusia yang masih percaya bahwa berbagi adalah bahasa paling jujur dari kemanusiaan.
Sore itu, jalanan Karawang terasa berbeda.
Relawan berdiri dengan senyum yang tak dibuat-buat. Pengendara yang melintas memperlambat laju, menerima paket kecil dengan ucapan terima kasih yang tulus. Beberapa di antaranya bahkan terlihat menundukkan kepala sejenak mungkin sedang berdoa.
Di tengah hiruk pikuk itu, satu hal terasa jelas : Ramadhan selalu menemukan cara untuk menyatukan manusia.
Kegiatan ini bukan sekadar aksi sosial tahunan. Ia adalah pengingat bahwa di tengah kehidupan yang sering kali terasa keras dan terburu-buru, masih ada ruang untuk saling menguatkan.
Ketua DPD GMBI Distrik Karawang, Asep Mulyana, menyampaikan bahwa kegiatan ini lahir dari keyakinan sederhana : Ramadhan harus menjadi bulan yang bisa dirasakan keindahannya oleh semua orang.
“Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang bagaimana kita menghadirkan kebahagiaan bagi sesama. Melalui kegiatan GMBI Peduli ini, kami ingin mengiringi indahnya Ramadhan dengan tindakan nyata, agar masyarakat Karawang siapa pun mereka, di mana pun mereka berada dapat mengecap manisnya berkah bulan suci ini,” ujar Asep.
Menurutnya, gerakan berbagi ini juga merupakan bagian dari komitmen organisasi untuk terus hadir di tengah masyarakat.
“Bagi kami, keberadaan organisasi bukan hanya tentang struktur atau kegiatan internal. Yang paling penting adalah manfaatnya bagi masyarakat. Ketika ada senyuman yang lahir dari tangan-tangan yang memberi, di situlah kami merasa GMBI benar-benar hidup,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Kesekretariatan DPD GMBI Distrik Karawang, Arif Susanto atau yang biasa disapa dengan Bang April, menambahkan bahwa kegiatan ini merupakan pengingat bahwa “Dunia ini tidak butuh banyak orang hebat. Dunia ini merindukan jiwa-jiwa besar, jiwa yang mampu merangkul kebersamaan, menyalakan harapan, dan mewarnai kehidupan dengan kasih sayang,” ungkap Arif.
Ia juga mengingatkan bahwa nilai berbagi yang dilakukan hari itu sejatinya adalah ajaran yang telah diwariskan oleh Rasulullah SAW.
“Rasulullah SAW bersabda, ‘Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.’ Dan dalam hadis lainnya beliau juga mengingatkan, ‘Tidak sempurna iman seseorang hingga ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” ujar Bang April.
Lebih lanjut Bagi Bang April, pesan itu sederhana namun sangat dalam. “Jika setiap orang mau mengambil sedikit saja peran untuk berbagi, maka dunia akan menjadi tempat yang jauh lebih hangat untuk ditinggali.” ungkapnya.
Menjelang azan maghrib berkumandang, langit Karawang perlahan berubah gelap. Satu per satu paket makanan telah berpindah tangan.
10.000 paket.
10.000 kesempatan untuk berbuka.
10.000 kemungkinan lahirnya doa-doa baik.
Barangkali bagi sebagian orang, ini hanyalah kegiatan berbagi makanan, Namun bagi mereka yang menerima di saat perut menahan lapar seharian, ia bisa menjadi sesuatu yang jauh lebih besar. Ia bisa menjadi pengingat bahwa masih ada yang peduli.
Dan bagi para pemimpin daerah, mungkin ini juga sebuah pesan yang sunyi namun jelas : bahwa kesejahteraan masyarakat tidak selalu dimulai dari kebijakan besar di ruang rapat, tetapi sering kali lahir dari hal yang paling sederhana, kepekaan terhadap sesama.
Di Karawang, pada sebuah senja Ramadhan, 10.000 paket makanan telah dibagikan. Namun yang sesungguhnya tersebar bukan hanya makanan, melainkan harapan.
Dan harapan, seperti kita tahu, selalu punya cara untuk bertahan lebih lama daripada sekadar kenyang. (red).


