“Generasi penerus kekuatan politik Jokowi adalah Dedi Mulyadi. Dan fenomena itu kini mulai muncul serta terbuka jelas di hadapan publik,” tegas Elyasa yang juga merupakan seorang praktisi hukum dalam keterangan resminya, Jum’at (02/10/2026).
Karawang, otentiknews.click — Presidium Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) Kabupaten Karawang, H. Elyasa Budiyanto, S.H., M.H., merespons keras berkembangnya narasi politik di media sosial yang menyoroti pergerakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM). Elyasa menilai manuver politik KDM kian mengonfirmasi predikat dirinya sebagai “kutu loncat politik”.
Belakangan ini, jagat media sosial ramai diwarnai perdebatan mengenai fenomena dan analogi “Habis Mulyono Terbitlah Mulyadi” serta “Habis Jokowi Terbitlah Dedi Mulyadi”.
Narasi tersebut memotret kekhawatiran publik atas munculnya pola kepemimpinan yang berfokus pada gimik, pencitraan digital, serta penggalangan kekuatan politik secara pragmatis. Menurut Elyasa, berkembangnya wacana ini menjadi bukti bahwa masyarakat Jawa Barat kini semakin cerdas, kritis, dan mampu membaca arah angin politik.
”Generasi penerus kekuatan politik Jokowi adalah Dedi Mulyadi. Dan fenomena itu kini mulai muncul serta terbuka jelas di hadapan publik,” tegas Elyasa yang juga merupakan seorang praktisi hukum dalam keterangan resminya, Jum’at (02/10/2026).

Sorotan tajam Elyasa didasari oleh rekam jejak perjalanan karier politik Dedi Mulyadi yang kerap berpindah partai—berawal dari Partai Golkar, kemudian berpindah ke Partai Gerindra, hingga belakangan santer diisukan mulai merapat dan dikaitkan dengan Partai Solidaritas Indonesia (PSI).
Indikasi tersebut diperkuat dengan maraknya kemunculan baliho dan atribut PSI yang terpasang di sejumlah wilayah Jawa Barat, seperti Bogor dan Bekasi, yang diprediksi akan segera merambah ke Kabupaten Karawang. Elyasa menilai fenomena berpindah-pindah bendera ini hanyalah taktik pragmatis demi memenangkan berbagai ajang kontestasi politik, baik Pilkada, Pileg, maupun Pilgub semata.
Tak sekadar etika berpartai, Elyasa turut mengkritik tajam efektivitas kepemimpinan Dedi Mulyadi di Jawa Barat yang dinilainya gagal dan hanya mengandalkan popularitas konten media sosial.
”Dedi Mulyadi dianggap gagal memimpin Jawa Barat jika hanya mengandalkan kekuatan konten semata. Realitanya, kinerja kepemimpinan di Jawa Barat tercatat jeblok, ditandai dengan tekor dan defisitnya APBD Provinsi Jawa Barat saat ini,” ujar Elyasa.
Menutup keterangannya, Elyasa menegaskan bahwa eskalasi narasi di media sosial dan manuver politik saat ini merupakan sinyal penting bagi konsolidasi kekuatan politik menuju panggung nasional.
”Saatnya publik menyaksikan titik balik keruntuhan kekuatan politik Jokowi dan Dedi Mulyadi pada tahun politik Pilpres 2029 mendatang,” pungkasnya. (red)


