dr. Sri menyampaikan, bahwa tantangan sektor kesehatan 2026, tentang pemerataan tenaga medis, Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per Oktober 2026, Indonesia masih menghadapi tantangan serius terkait distribusi tenaga medis.Â
Karawang, otentiknews.click – Peringatan Hari Dokter Nasional 2026 yang jatuh pada Sabtu, 24 Oktober 2026, menjadi momentum bersejarah bagi dunia kesehatan Indonesia. Peringatan tahun ini sekaligus menandai Hari Ulang Tahun (HUT) ke-76 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sejak organisasi profesi ini resmi melegalkan dasar hukumnya pada 24 Oktober 1950.
Dalam keterangan resminya pada Sabtu, 24 Oktober 2026, Ketua Asosiasi Klinik (Asklin) Cabang Karawang, Dr. dr. H. Sri Raharjo, S.H., M.H., M.MRS., CPHM., Adv., menyampaikan bahwa momentum ini harus dimanfaatkan untuk memperkuat sinergi dan merefleksikan pengabdian para tenaga medis di seluruh Tanah Air.

Mengusung tema resmi “IDI Berkemajuan”, peringatan Hari Dokter Nasional 2026 tidak hanya menjadi wadah apresiasi atas dedikasi para dokter, melainkan juga sorotan terhadap tantangan besar sektor kesehatan nasional, khususnya pemenuhan dan pemerataan puluhan ribu dokter spesialis.
Perjalanan Sejarah IDI dan Hari Dokter Nasional
Awal Mula Organisasi: Cikal bakal wadah perhimpunan dokter di Indonesia telah dirintis sejak era kolonial melalui pendirian Vereeniging van Indische Artsen pada tahun 1911.
Lahirnya IDI: Pasca kemerdekaan, Muktamar Dokter Warganegara Indonesia pertama digelar pada akhir September 1950 yang memilih dr. Sarwono Prawirohardjo sebagai Ketua Umum IDI pertama.
Peresmian Legalitas: Pada 24 Oktober 1950, pengurus IDI resmi menghadap notaris untuk pengesahan dasar hukum organisasi. Tanggal bersejarah tersebut kemudian ditetapkan sebagai Hari Jadi IDI sekaligus Hari Dokter Nasional.
dr. Sri menyampaikan, bahwa tantangan sektor kesehatan 2026, tentang pemerataan tenaga medis, Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI per Oktober 2026 Indonesia masih menghadapi tantangan serius terkait distribusi tenaga medis:
*Kekurangan Dokter Spesialis: Indonesia mencatat kekurangan sebanyak 55.192 dokter spesialis.
*Kesenjangan Wilayah: Sebanyak 93% wilayah di Indonesia masih membutuhkan penambahan dan pemerataan dokter spesialis agar akses layanan kesehatan tidak hanya menumpuk di kota-kota besar atau rumah sakit rujukan utama.
Menutup keterangannya, Dr. dr. H. Sri Raharjo menyampaikan pesan moral mendalam bagi seluruh insan kesehatan. “Khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesama,” pungkas dr. Sri Raharjo. (red)


