Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PKS, H. Budiwanto, S.Si., M.M., menilai, kondisi tersebut menjadi alarm penting agar Indonesia mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan berbasis potensi lokal.
Karawang, otentiknews.click – Di tengah belum meredanya ketegangan geopolitik dunia akibat konflik antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran, isu ketahanan energi kembali menjadi perhatian serius berbagai negara, termasuk Indonesia.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Fraksi PKS, H. Budiwanto, S.Si., M.M., menilai, kondisi tersebut menjadi alarm penting agar Indonesia mempercepat transisi menuju energi baru dan terbarukan berbasis potensi lokal.

Menurut H. Budiwanto, konflik di kawasan Timur Tengah sangat berpengaruh terhadap stabilitas harga minyak dunia karena wilayah tersebut merupakan salah satu pusat produksi dan jalur distribusi energi global, terutama melalui Selat Hormuz yang menjadi jalur utama perdagangan minyak dunia.
Ketika konflik meningkat, harga minyak cenderung melonjak dan berdampak langsung terhadap biaya transportasi, industri, hingga harga kebutuhan pokok masyarakat.
“Indonesia memang bukan negara yang terlibat langsung dalam konflik tersebut, tetapi dampak ekonominya bisa terasa sampai ke daerah. Ketika harga minyak dunia naik, maka biaya produksi, distribusi, hingga harga pangan juga ikut terdorong naik,” ujar H. Budiwanto, Kamis (28/05/2026) malam.
Ia menjelaskan, lonjakan harga energi global berpotensi meningkatkan inflasi, memperberat subsidi pemerintah, hingga memengaruhi daya beli masyarakat.
Karena itu, menurutnya Indonesia tidak boleh terus bergantung pada energi fosil semata, tetapi harus mulai serius membangun kemandirian energi berbasis sumber daya lokal dan energi ramah lingkungan.
H. Budiwanto menilai Jawa Barat memiliki potensi besar dalam pengembangan energi alternatif, mulai dari tenaga surya, biogas peternakan, hingga pemanfaatan sampah menjadi energi.
Salah satu energi yang dinilai sangat potensial adalah penggunaan panel surya atau solar cell, terutama untuk kawasan pedesaan, pertanian, peternakan, dan fasilitas publik.
“Indonesia adalah negara tropis yang mendapatkan sinar matahari melimpah sepanjang tahun. Ini potensi besar untuk pengembangan panel surya sebagai sumber energi masa depan yang bersih dan berkelanjutan,” kata legislator dari Dapil Jabar X (Karawang-Purwakarta).
Menurut mantan Ketua DPD PKS Karawang ini, pemanfaatan solar cell dapat membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap listrik berbasis bahan bakar fosil sekaligus menekan biaya energi jangka panjang.
Bahkan, teknologi panel surya kini mulai banyak digunakan untuk penerangan jalan, pompa air pertanian, hingga kebutuhan listrik rumah tangga.
Selain tenaga surya, limbah peternakan sapi juga dinilai memiliki potensi besar untuk diolah menjadi biogas.
Kotoran ternak yang selama ini dianggap limbah dapat dimanfaatkan menjadi sumber energi alternatif untuk kebutuhan memasak maupun listrik skala kecil di pedesaan.
“Limbah peternakan jangan hanya dianggap masalah lingkungan. Kalau dikelola dengan baik, justru bisa menjadi sumber energi yang murah dan bermanfaat bagi masyarakat,” ungkapnya.
Tak hanya itu, persoalan sampah perkotaan juga dinilai perlu diubah menjadi peluang energi baru melalui teknologi pengolahan sampah menjadi energi atau waste to energy.
Menurut H. Budiwanto, volume sampah yang terus meningkat harus mulai diarahkan menjadi sumber energi produktif sekaligus solusi mengurangi pencemaran lingkungan.
Ia menambahkan, pengembangan energi baru dan terbarukan tidak hanya penting bagi lingkungan, tetapi juga dapat membuka peluang ekonomi baru seperti lapangan kerja hijau, industri teknologi ramah lingkungan, hingga penguatan ekonomi desa berbasis energi mandiri.
“Ke depan, ketahanan energi harus menjadi bagian dari ketahanan ekonomi bangsa. Semakin mandiri energi kita melalui solar cell, biogas, dan pengolahan sampah, maka Indonesia akan semakin kuat menghadapi gejolak geopolitik dunia,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, H. Budiwanto berharap pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat dapat memperkuat kolaborasi dalam mempercepat transisi energi nasional agar Indonesia mampu mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan, mandiri, dan berpihak kepada kesejahteraan rakyat. (red).


